Tentang hewan 1
Al-Qur'an, kitab suci yang ber-
isikan ayat-ayat tanzīliyah,
memiliki fungsi utama
sebagai petunjuk bagi seluruh umat
manusia baik dalam hubungannya
dengan Tuhan, manusia, maupun
alam raya. Dengan begitu, yang dipa-
parkan Al-Qur'an tidak hanya masalah-
masalah kepercayaan (akidah), hu-
kum, ataupun pesan-pesan moral,
namun juga di dalamnya ada
petunjuk memahami rahasia-rahasia
alam raya. Di samping itu, ia juga
ber-fungsi untuk membuktikan kebe-
naran Nabi Muhammad. Dalam
beberapa kesempatan, Al-Qur'an
menantang siapa pun yang mera-
gukannya untuk menyusun dan
mendatangkan “semacam” Al-Qur'an
secara keseluruhan (aţ-Ţūr/52: 35),
atau sepuluh surah yang semacam-
nya (Hūd/11: 13), atau satu surah
saja (Yūnus/10: 38), atau sesuatu
yang “seperti”, atau kurang lebih,
“sama” dengan satu surah darinya
(al-Baqarah/2: 23). Dari sini muncul
usaha-usaha untuk memperlihatkan
berbagai dimensi Al-Qur'an yang
dapat menaklukkan siapa pun yang
meragukannya, sehingga kebenaran
bahwa ia bukan tutur kata manusia
menjadi tak terbantahkan. Inilah yang
disebut i‘jāz. sebab berwujud teks
bahasa yang baru dapat bermakna
sesudah dipahami, usaha-usaha dalam
memahami dan menemukan raha-
sia Al-Qur'an menjadi bervariasi
sesuai dengan latar belakang yang
memahaminya. Setiap orang dapat
menangkap pesan dan kesan yang
berbeda dari lainnya. Seorang pakar
bahasa akan memiliki kesan yang
berbeda dengan yang ditangkap oleh
seorang ilmuwan.
Berbicara tentang Al-Qur'an dan ilmu
pengetahuan, kita sering dihadapkan
pada pertanyaan klasik: adakah kese-
suaian antara keduanya atau sebalik-
nya, bertentangan? Untuk menjawab
pertanyaan ini ada baiknya dicermati
bersama ungkapan seorang ilmuwan
modern, Einstein, berikut, “Tiada
ketenangan dan keindahan yang
dapat dirasakan hati melebihi saat-
saat saat memerhatikan keindahan
rahasia alam raya. Sekalipun rahasia itu
tidak terungkap, namun di balik itu ada
rahasia yang dirasa lebih indah lagi,
melebihi segalanya, dan jauh di atas
bayang-bayang akal kita. Menemukan
rahasia dan merasakan keindahan ini
tidak lain yaitu esensi dari bentuk
penghambaan.”
Dari kutipan ini, agaknya
Einstein ingin menunjukkan bahwa
ilmu yang sejati yaitu yang dapat
mengantarkan kepada kepuasan dan
kebahagiaan jiwa dengan bertemu
dan merasakan kehadiran Sang
Pencipta melalui wujud alam raya.
Memang, dengan mengamati sejarah
ilmu dan agama, ditemukan beberapa
kesesuaian antara keduanya, antara
lain dari segi tujuan, sumber, dan cara
mencapai tujuan ini . Bahkan,
keduanya telah mulai beriringan
sejak penciptaan manusia pertama.
Beberapa studi menunjukkan bahwa
hakikat keberagamaan muncul dalam
jiwa manusia sejak ia mulai bertanya
tentang hakikat penciptaan (al-
Baqarah/2: 30-38).1
Lantas mengapa sejarah agama
dan ilmu pengetahuan diwarnai dengan
pertentangan? Diakui, di samping
memiliki kesamaan, agama dan ilmu
pengetahuan juga memiliki objek
dan wilayah yang berbeda. Agama
(Al-Qur'an) mengajarkan bahwa selain
alam materi (fisik) yang menuntut
manusia melakukan eksperimen, objek
ilmu juga mencakup realitas lain di luar
jangkauan panca indera (metafisik)
yang tidak dapat diobservasi dan
diuji coba. Allah berfirman, “Maka
Aku bersumpah demi apa yang dapat
kamu lihat dan demi apa yang tidak
kamu lihat.” (al-Hāqqah/69: 38). Un-
tuk yang bersifat empiris, memang
dibuka ruang untuk menguji dan
mencoba (al-‘Ankabūt/29: 20). Namun
demikian, seorang ilmuwan tidak
diperkenankan mengatasnamakan
ilmu untuk menolak “apa-apa” yang
non-empiris (metafisik), sebab di
wilayah ini Al-Qur'an telah menyatakan
keterbatasan ilmu manusia (al-Isrā'/17:
85) sehingga diperlukan keimanan.
Kerancuan terjadi manakala ilmuwan
dan agamawan tidak memahami objek
dan wilayahnya masing-masing.
Kalau saja pertikaian antara
ilmuwan dan agamawan di Eropa pada
abad pertengahan (sampai abad ke-18)
tidak merebak ke dunia Islam, mungkin
umat Islam tidak akan mengenal per-
tentangan antara agama dan ilmu
pengetahuan. Perbedaan memang
tidak seharusnya membawa kepada
pertentangan dan perpecahan. Kedua-
nya bisa saling membantu untuk
mencapai tujuan. Bahkan, keilmuan
yang matang justru akan membawa
kepada sikap keberagamaan yang
tinggi (Fāţir/35: 27).
Sejarah cukup menjadi saksi
bahwa ahli-ahli falak, kedokteran,
ilmu pasti dan lain-lain telah mencapai
hasil yang mengagumkan di masa
kejayaan Islam. Di saat yang sama
mereka menjalankan kewajiban
agama dengan baik, bahkan juga
ahli di bidang agama. Maka amatlah
tepat apa yang dikemukakan Maurice
Bucaille, seorang ilmuwan Perancis
terkemuka, dalam bukunya Al-Qur'an,
Bibel, dan Sains Modern, bahwa tidak
ada satu ayat pun dalam Al-Qur'an yang
bertentangan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan. Inilah kiranya yang
memicu besarnya perhatian para
sarjana untuk mengetahui lebih jauh
model penafsiran Al-Qur'an dengan
pendekatan ilmu pengetahuan.
B. APA DAN MENGAPA
TAFSIR ILMI?
Setiap Muslim wajib mempelajari dan
memahami Al-Qur'an. Seorang Muslim
diperintah Al-Qur'an untuk tidak ber-
iman secara membabi-buta (taqlīd),
namun dengan mempergunakan akal
pikiran. Al-Qur'an mengajak umat
manusia untuk terus berdialog de-
ngannya di sepanjang masa. Semua
kalangan dengan segala keragaman-
nya diundang untuk mencicipi hidang-
annya, hingga wajar jika kesan yang
diperoleh pun berbeda-beda. Ada yang
terkesan dengan kisah-kisahnya seperti
a♪-♫a‘labī dan al-Khāzin; ada yang
memerhatikan persoalan bahasa dan
retorikanya seperti az-Zamakhsyarī;
atau hukum-hukum seperti al-Qurţubī.
Masing-masing memiliki kesan
yang berbeda sesuai kecenderungan
dan suasana yang melingkupinya.
saat gelombang Hellenisme
masuk ke dunia Islam melalui pener-
jemahan buku-buku ilmiah pada
masa Dinasti ‘Abbasiyah, khususnya
pada masa Pemerintahan Khalifah
al-Makmūn (w. 853 M), muncullah
kecenderungan menafsirkan Al-Qur'an
dengan teori-teori ilmu pengetahuan
atau yang lalu dikenal sebagi
tafsir ilmi. Mafātihul-Gaib, karya ar-
Rāzī, dapat dibilang sebagai tafsir yang
pertama memuat secara panjang-lebar
penafsiran ilmiah terhadap ayat-ayat
Al-Qur'an.2
Tafsir ilmi merupakan sebuah
upaya memahami ayat-ayat Al-Qur'an
yang mengandung isyarat ilmiah
dari perspektif ilmu pengetahuan
modern. Menurut Husain aż-Żahabī,
tafsir ini membahas istilah-istilah
ilmu pengetahuan dalam penuturan
ayat-ayat Al-Qur'an, serta berusaha
menggali dimensi keilmuan dan
menyingkap rahasia kemukjizatannya
terkait informasi-informasi sains yang
mungkin belum dikenal manusia pada
masa turunnya sehingga menjadi bukti
kebenaran bahwa Al-Qur'an bukan
karangan manusia, namun wahyu
Sang Pencipta dan Pemilik alam raya.
Di era modern tafsir ilmi semakin
populer dan meluas. Fenomena ini
setidaknya dipengaruhi oleh beberapa
faktor berikut:
Pertama, pengaruh kemajuan
teknologi dan ilmu pengetahuan
2. Sedemikian banyaknya persoalan ilmiah dan
logika yang disinggung, Ibnu Taimiyah berkata, “Di
dalam tafsirnya ada segala sesuatu kecuali
tafsir”. Sebuah penilaian dari pengikut setia Hanābilah
(pengikut Ahmad bin Hanbal), terhadap ar-Rāzī yang
diketahui sangat getol dalam mendebat kelompok
ini . Berbeda dengan itu, Tājuddīn as-Subkī
berkomentar, “Di dalamnya ada segala sesuatu,
plus tafsir”. Lihat: Fakhruddīn ar-Rāzī, Fathullāh Khalīf,
h. 13.
Barat (Eropa) terhadap dunia Arab
dan kawasan Muslim. Terlebih pada
paruh kedua abad kesembilan belas
sebagian besar dunia Islam berada di
bawah kekuasaan Eropa. Hegemoni
Eropa atas kawasan Arab dan
Muslim ini hanya dimungkinkan oleh
superioritas teknologi. Bagi seorang
Muslim, membaca tafsir Al-Qur'an
bahwa persenjataan dan teknik-teknik
asing yang memungkinkan orang-
orang Eropa menguasai umat Islam
sebenarnya telah disebut dan diramal-
kan di dalam Al-Qur'an, bisa menjadi
pelipur lara.3 Inilah yang diungkapkan
M. Quraish Shihab sebagai kompensasi
perasaan inferiority complex (perasaan
rendah diri).4 Lebih lanjut Quraish
menulis, “Tidak dapat diingkari bahwa
mengingat kejayaan lama merupakan
obat bius yang dapat meredakan sakit,
meredakan untuk sementara, namun
bukan menyembuhkannya.”5
Kedua, munculnya kesadaran
untuk membangun rumah baru bagi
peradaban Islam sesudah mengalami
dualisme budaya yang tercermin pada
sikap dan pemikiran. Dualisme ini
melahirkan sikap kontradiktif antara
mengenang kejayaan masa lalu dan
keinginan memperbaiki diri, dengan
kekaguman terhadap peradaban
Barat yang hanya dapat diambil sisi
materinya saja. Sehingga yang terjadi
yaitu budaya di kawasan Muslim
“berhati Islam, namun berbaju Barat”.
Tafsir ilmi pada hakikatnya ingin
membangun kesatuan budaya melalui
pola hubungan harmonis antara Al-
Qur'an dan pengetahuan modern yang
menjadi simbol peradaban Barat.6 Di
saat yang sama, para penggagas tafsir
ini ingin menunjukkan pada warga
dunia bahwa Islam tidak mengenal
pertentangan antara agama dan ilmu
pengetahuan seperti yang terjadi di
Eropa pada Abad Pertengahan yang
mengakibatkan para ilmuwan menjadi
korban hasil penemuannya.
Ketiga, perubahan cara pandang
Muslim modern terhadap ayat-ayat Al-
Qur'an, terutama dengan munculnya
penemuan-penemuan ilmiah modern
pada abad ke-20. Memang Al-Qur'an
mampu berdialog dengan siapa
pun dan kapan pun. Ungkapannya
singkat tapi padat, dan membuka
ragam penafsiran. Misalnya, kata
lamūsi‘ūn pada Surah az-Zāriyāt/51: 47,
“Dan langit itu Kami bangun dengan
kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya
Kami benar-benar meluaskan(nya)”,
dalam karya-karya tafsir klasik ada
yang menafsirkannya dengan “me-
luaskan rezeki semua makhluk
dengan perantara hujan”; ada yang
mengartikan “berkemampuan mencip-
takan lebih dari itu”; dan ada pula yang
mengartikan “meluaskan jarak antara
langit dan bumi”.7 Penafsiran ini didasari
atas pandangan kasatmata dalam
suasana yang sangat terbatas dalam
bidang ilmu pengetahuan. Boleh jadi
semuanya benar. Seiring ditemukannya
penemuan ilmiah baru, seorang Muslim
modern melihat ada tafsiran yang lebih
jauh dari sekadar yang dikemukakan
para pendahulu. Dari hasil penelitian
luar angkasa, para ahli menyimpulkan
sebuah teori yang dapat dikatakan
sebagai hakikat ilmiah, yaitu nebula
yang berada di luar galaksi tempat
kita tinggal terus menjauh dengan
kecepatan yang berbeda-beda, bahkan
benda-benda langit yang ada dalam
satu galaksi pun saling menjauh satu
dengan lainnya, dan ini terus berlanjut
sampai dengan waktu yang ditentukan
oleh Sang Maha Kuasa.8
Keempat, tumbuhnya kesadaran
bahwa memahami Al-Qur'an dengan
pendekatan sains modern bisa menjadi
sebuah ‘Ilmu Kalam Baru’. Kalau
dulu ajaran Al-Qur’an diperkenalkan
dengan pendekatan logika/filsafat se-
hingga menghasilkan ratusan bahkan
ribuan karya ilmu kalam, sudah
saatnya pendekatan ilmiah/ saintifik
menjadi alternatif. Di dalam Al-Qur'an
ada kurang lebih 750-1000
ayat kauniyah, sementara ayat-ayat
hukum hanya sekitar 250 ayat.9 Lalu
mengapa kita mewarisi ribuan buku
fikih, sementara buku-buku ilmiah
hanya beberapa gelintir saja, padahal
Tuhan tidak pernah membedakan
perintah-Nya untuk memahami ayat-
ayat Al-Qur'an. Kalaulah ayat-ayat
hukum, muamalat, akhlak dan akidah
merupakan ‘petunjuk’ bagi manusia
untuk mengenal dan mencontoh
perilaku Tuhan, bukankah ayat-ayat
ilmiah juga petunjuk akan keagungan
dan kekuasaaan Tuhan di alam raya ini?
C. PRO-KONTRA TAFSIR ILMI
Model tafsir ilmi sudah lama di-
perdebatkan para ulama, mulai dari
ulama klasik sampai ahli-ahli ke-
islaman di abad modern. Al-Gazālī,
ar-Rāzī, al-Mursī dan as-Suyūţī dapat
dikelompokkan sebagai ulama yang
mendukung tafsir ini. Berseberangan
dengan mereka, asy-Syāţibī menentang
keras penafsiran model seperti ini.
Dalam barisan tokoh-tokoh modern,
para pendukung tafsir ini seperti,
Muhammad ‘Abduh, Ţanţāwī Jawharī,
Hanafī Ahmad berseberangan dengan
tokoh-tokoh seperti Mahmūd Syaltūt,
Amīn al-Khūlī, dan ‘Abbās ‘Aqqād.
Mereka yang berkeberatan de-
ngan model tafsir ilmi berargumentasi
antara lain dengan melihat:
1. Kerapuhan filologisnya
Al-Qur'an diturunkan kepada bangsa
Arab dalam bahasa ibu mereka,
sebab nya ia tidak memuat sesuatu
yang mereka tidak mampu mema-
haminya. Para sahabat tentu lebih
mengetahui Al-Qur'an dan apa yang
tercantum di dalamnya, namun ti-
dak seorang pun di antara mereka
menyatakan bahwa Al-Qur'an menca-
kup seluruh cabang ilmu pengetahuan.
2. Kerapuhannya secara teologis
Al-Qur'an diturunkan sebagai petun-
juk yang membawa pesan etis dan
keagamaan; hukum, akhlak, muama-
lat, dan akidah. Ia berkaitan dengan
pandangan manusia mengenai hidup,
bukan dengan teori-teori ilmiah. Ia
buku petunjuk dan bukan buku ilmu
pengetahuan. Adapun isyarat-isyarat
ilmiah yang terkandung di dalamnya
dikemukakan dalam konteks petunjuk,
bukan menjelaskan teori-teori baru.
3. Kerapuhannya secara logika
Di antara ciri ilmu pengetahuan yaitu
bahwa ia tidak mengenal kata ‘kekal’.
Apa yang dikatakan sebagai natural law
tidak lain hanyalah sekumpulan teori
dan hipotesis yang sewaktu-waktu bisa
berubah. Apa yang dianggap salah di
xxvSambutan dan Kata Pengantar
masa silam, misalnya, boleh jadi diakui
kebenarannya di abad modern. Ini me-
nunjukkan bahwa produk-produk ilmu
pengetahuan pada hakikatnya relatif
dan subjektif. Jika demikian, patutkah
seseorang menafsirkan yang kekal dan
absolut dengan sesuatu yang tidak ke-
kal dan relatif? Relakah kita mengubah
arti ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan
perubahan atau teori ilmiah yang tidak
atau belum mapan itu?10
Ketiga argumentasi di atas ag-
ak-nya yang paling populer dikemuka-
kan untuk menolak tafsir ilmi. Pengant-
tar ini tidak ingin mendiskusikannya
dengan menghadapkannya kepada
argumentasi kelompok yang men-
dukung. Kedua belah pihak boleh jadi
sama benarnya. sebab nya, tidak pro-
duktif jika terus mengkonfrontasi-
kan keduanya. Yang dibutuhkan ada-
lah formula kompromistik untuk lebih
mengembangkan misi dakwah Islam di
tengah kemajuan ilmu pengetahuan.
Diakui bahwa ilmu pengetahuan
itu relatif; yang sekarang benar, bisa
jadi besok salah. namun , bukankah
itu ciri dari semua hasil budi daya
manusia, sehingga di dunia tidak ada
yang absolut kecuali Tuhan? Ini bisa
dipahami sebab hasil pikiran manusia
yang berupa acquired knowledge (ilmu
yang dicari) juga memiliki sifat atau
ciri akumulatif. Ini berarti, dari masa
ke masa ilmu akan saling melengkapi,
sehingga ia akan selalu berubah. Di sini
manusia diminta untuk selalu berijtihad
dalam rangka menemukan kebenaran.
Apa yang telah dilakukan para ahli
hukum (fuqaha), teologi, dan etika di
masa silam dalam memahami ayat-
ayat Al-Qur'an merupakan ijtihad baik,
sama halnya dengan usaha memahami
isyarat-isyarat ilmiah dengan penemuan
modern. Yang diperlukan yaitu kehati-
hatian dan kerendahan hati. Tafsir, apa
pun bentuknya, hanyalah sebuah upaya
manusia yang terbatas untuk mema-
hami maksud kalam Tuhan yang tidak
terbatas. Kekeliruan dalam penafsiran
sangat mungkin terjadi, dan tidak
akan mengurangi kesucian Al-Qur'an.
namun kekeliruan dapat diminimalisir
atau dihindari dengan memperhatikan
kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh
para ulama.
D. PRINSIP DASAR DALAM
PENYUSUNAN TAFSIR ILMI
Dalam upaya menjaga kesucian Al-
Qur'an para ulama merumuskan be-
berapa prinsip dasar yang sepatutnya
diperhatikan dalam menyusun sebuah
tafsir ilmi, antara lain:11
11. Poin-poin prinsip ini disimpulkan dari ketetapan
Lembaga Pengembangan I‘jāz Al-Qur’an dan Sunnah,
Rābiţah ‘Ālam Islāmī di Mekah dan lembaga serupa di
Mesir (Lihat wawancara Zaglūl dalam Majalah Tasawuf
Mesir Edisi Mei 2001 dan al-Kaun wal-I‘jāz al-‘Ilmī fīl-
Qur’ān karya Mansour Hasab an-Nabī, Ketua Lembaga
I‘jāz Mesir)
1. Memperhatikan arti dan kaidah-
kaidah kebahasaan. Tidak sepa-
tutnya kata “țayran” dalam
Surah al-Fīl/105: 3, “Dan Dia
turunkan kepada mereka Burung
Ababil” ditafsirkan sebagai
kuman seperti dikemukakan oleh
Muhammad ‘Abduh dalam Tafsīr
Juz ‘Amma-nya. Secara bahasa
itu tidak dimungkinkan, dan
maknanya menjadi tidak tepat,
sebab akan bermakna, “dan Dia
mengirimkan kepada mereka
kuman-kuman yang melempari
mereka dengan batu ...”.
2. Memperhatikan konteks ayat
yang ditafsirkan, sebab ayat-ay-
at dan surah Al-Qur'an, bahkan
kata dan kalimatnya, saling ber-
korelasi. Memahami ayat-ayat
Al-Qur'an harus dilakukan secara
komprehensif, tidak parsial.
3. Memperhatikan hasil-hasil pe-
nafsiran dari Rasulullah șalallā-
hu ‘alaihi wa sallam selaku pe-
megang otoritas tertinggi, para
sahabat, tabiin, dan para ulama
tafsir, terutama yang menyang-
kut ayat yang akan dipahaminya.
Selain itu, penting juga mema-
hami ilmu-ilmu Al-Qur'an lainnya
seperti nāsikh-mansūkh, asbā-
bun-nuzūl, dan sebagainya.
4. Tidak memakai ayat-ayat
yang mengandung isyarat ilmiah
untuk menghukumi benar atau
salahnya sebuah hasil penemuan
ilmiah. Al-Qur'an memiliki
fungsi yang jauh lebih besar dari
sekadar membenarkan atau me-
nyalahkan teori-teori ilmiah.
5. Memperhatikan kemungkinan
satu kata atau ungkapan men-
gandung sekian makna, kenda-
tipun kemungkinan makna itu
sedikit jauh (lemah), seperti di-
kemukakan pakar bahasa Arab,
Ibnu Jinnī dalam kitab al-Khașā'iș
(2/488). Al-Gamrawī, seorang
pakar tafsir ilmiah Al-Qur'an Me-
sir, mengatakan, “Penafsiran Al-
Qur'an hendaknya tidak terpaku
pada satu makna. Selama ungka-
pan itu mengandung berbagai
kemungkinan dan dibenarkan
secara bahasa, maka boleh jadi
itulah yang dimaksud Tuhan”.12
6. Untuk bisa memahami isya-
rat-isyarat ilmiah hendaknya
memahami betul segala sesuatu
yang menyangkut objek bahas-
an ayat, termasuk penemuan-pe-
nemuan ilmiah yang berkaitan
dengannya. M. Quraish Shihab
mengatakan, “...sebab-sebab ke-
keliruan dalam memahami atau
menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an
antara lain yaitu kelemahan
dalam bidang bahasa serta ke-
12. Al-Islām fī ‘Așr al-‘Ilm, h. 294.
xxviiSambutan dan Kata Pengantar
dua tim; syar‘i dan kauni. Tim syar‘i
bertugas melakukan kajian dalam
perspektif ilmu-ilmu keislaman dan
bahasa Arab, sedang tim kauni
melakukan kajian dalam perspektif
ilmu pengetahuan.
Kajian tafsir ilmi tidak dalam
kerangka menjastifikasi kebenaran
temuan ilmiah dengan ayat-ayat Al-
Qur'an. Juga tidak untuk memaksa-
kan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an
hingga seolah-olah ber-kesesuaian
dengan temuan ilmu pengetahuan.
Kajian tafsir ilmi be-rangkat dari
kesadaran bahwa Al-Qur'an bersifat
mutlak, sedang penafsirannya, baik
dalam perspektif tafsir maupun ilmu
pengetahuan, bersifat relatif.
Akhirnya, segala upaya manu-
sia tidak lain hanyalah setitik jalan un-
tuk menemukan kebenaran yang ab-
solut. Untuk itu, segala bentuk kerja
sama yang baik sangat diperlukan,
terutama antara ahli-ahli di bidang
ilmu pengetahuan dan para ahli di
bidang agama, dalam mewujudkan
pemahaman Al-Qur'an yang baik.[]
Hubungan antara manusia dan
hewan telah berjalan sangat
lama. Demikian erat hubung-
an itu hingga terjadi pemujaan terhadap
hewan dalam ritual keagamaan. Hal ini
terjadi terutama pada warga pra-
modern.
Pemujaan terhadap hewan oleh
warga maupun kepercayaan
tertentu dimulai oleh beberapa ke-
mungkinan. Penulis kuno, Diodorus,
menjelaskan bahwa pemujaan ter-
hadap hewan dimulai dari mitos dimana
saat itu dewa-dewa sedang terancam
oleh para raksasa. Untuk melindungi
dirinya para dewa lalu menyamar
menjadi hewan. warga , secara
alami lalu memuja hewan jelma-
an para dewa itu. Pemujaan terus
berlanjut meski para dewa sudah
tidak lagi menyembunyikan diri dalam
rupa hewan. Teori yang lebih modern
mengatakan bahwa pemujaan hewan
dimulai dari keingintahuan warga
secara alami terhadap perikehidupan
hewan tertentu. Pengamatan yang
mendalam dan intens menimbulkan
kekaguman tersendiri terhadap hewan
tertentu; kekaguman yang berlanjut
pada pemujaan. Ada pendapat lain
yang menyatakan bahwa pemujaan
bermula dari pemilihan nama keluarga.
Pengambilan nama keluarga dari he-
wan tertentu berubah menjadi keka-
guman terhadap hewan ini , dan
dari situlah muncul pemujaan.
Pemujaan dan penempatan he-
wan menjadi hewan suci lalu
Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains2
berkait dengan hukum mengenai
makanan. Umumnya hewan yang di-
anggap suci ini dilarang untuk
diburu dan dimakan, atau sebaliknya,
hewan ini dianggap tidak bersih
dan sebab nya harus dijauhi.
Dalam agama Mesir Kuno dikenal
pemadanan dewa terhadap hewan,
dimana hewan menjadi suci sebab
dipadankan dengan dewa tertentu.
Kucing, misalnya, dikaitkan dengan
Dewa Bastet, belibis dan kera babon
dikaitkan dengan Dewa Thoth, buaya
dengan Dewa Sebek dan Ra, ikan
dengan Dewa Set, musang dan burung
dengan Dewa Horus, anjing dan ajak
dengan Dewa Anubis, ular dan belut
dengan Dewa Atum, kumbang dengan
Dewa Khepera, sapi jantan dengan
Dewa Apis, dan selanjutnya.
Kepercayaan bahwa hewan me-
rupakan bentuk kelahiran kembali di
dunia bagi mereka yang sudah mati
mulai ditolak oleh agama-agama
Ibrahim. Tersebarnya agama Kristen
dan lalu Islam secara perlahan
menghilangkan kepercayaan dan ritual
penyembahan dan pemujaan terhadap
objek inderawi, di antaranya hewan.
Beberapa jenis hewan yang
diburu dapat sekaligus dianggap suci.
Kesuciannya diberikan kepada individu
tertentu, atau setiap kali hewan ter-
sebut dibunuh maka akan diberikan
persembahan untuk arwahnya. Bebe-
rapa jenis di antaranya yaitu :
1. Beruang; pemujaan terhadap
beruang banyak dilakukan
pada masa lalu, misalnya oleh
warga di kawasan Skan-
dinavia dan Asia Timur. Temuan
arkeologi menunjukkan bahwa
beruang juga sudah dipuja
manusia Neanderthal pada masa
pertengahan Masa Paleolithik.
warga Ainu, penghuni asli
kepulauan Jepang, menamai
beruang dengan “kamui” yang
berarti dewa.
2. Ikan Paus; di perairan Jepang
ikan paus telah diburu manusia
sejak lama. Di beberapa tempat
ada kuburan yang didedikasikan
kepada ikan paus yang telah
ditangkap dan dikonsumsi di
masa lalu. Ikan paus juga sangat
dihormati oleh warga asli
Alaska.
3. Sapi dan kerbau diagungkan
dan disucikan dalam beberapa
kepercayaan dan agama, seperti
Hindu, Zoroaster, Yunani Kuno,
dan Mesir Kuno.
4. Domba dan kambing; domba
dipuja oleh warga Mesir
Kuno. Dewa Amun, sebagai
penguasa Thebes, Mesir, digam-
barkan berkepala domba. Dewa
Yunani, Silenus, digambarkan
sebagai satyr, manusia setengah
Pendahuluan 3
domba. Hal yang hampir sama
juga diberlakukan untuk kam-
bing. Pada umumnya kambing
diasosiasikan dengan kemampu-
an seks laki-laki dan ilmu sihir
hitam. Kepercayaan ini berkem-
bang di kawasan Asia Tengah
sejak Masa Neolithik atau Masa
Perunggu.
5. Anjing; pemujaan terhadap
anjing dilakukan kaum Hindu
di Nepal dan beberapa bagian
India. Mereka percaya bahwa
anjing yaitu pesuruh Dewa
Yama, dewa kematian.
6. Kuda; warga Indo-Eropa
dan Turki masa lalu memuja kuda.
Penganut Hindu dan Buddha
di beberapa bagian India, dan
beberapa bagian warga di
Balkan, juga diketahui memuja
kuda.
7. Gajah; penganut Buddha dan
Hindu di berbagai daerah Asia
memposisikan gajah cukup ting-
gi. warga Thailand, misal-
nya, percaya bahwa gajah putih
memiliki nyawa orang yang
telah meninggal, yang kemung-
kinan yaitu Buddha sendiri.
Pengaruh gajah putih sangat
dirasakan di Kamboja, negara-
negara Indo-China, dan Ethiopia.
Penelitian juga mensinyalir bah-
wa warga Sumatra dan
Kalimantan bagian utara di masa
lalu juga memuja gajah.
Hewan liar lainnya, seperti kelinci,
serigala, kucing, kera, burung gagak,
rajawali, ular, dan ikan, banyak dipuja
di kalangan warga di seluruh
pelosok bumi. Semuanya memiliki
“tugas” tertentu. Burung, misalnya,
bertugas membawa berita dan menjadi
perantara antara alam dunia dan alam
lain. Burung dari kelompok merpati
dianggap sebagai dukun pada kisah
Nabi Nuh. Peran dukun juga dilakukan
oleh penyu atau labi-labi di China.
Hewan yaitu elemen penting dalam
praktik perdukunan. Peran utamanya
yaitu sebagai perantara antara alam
gaib dan alam nyata.
Pada agama modern, peran
hewan masih cukup penting, terutama
dalam agama Buddha, Jain, dan Hindu.
Sementara itu, pada agama-agama
monoteisme, seperti Yahudi, Kristen
dan Islam, hewan banyak dipakai
sebagai permisalan.
Dalam ajaran Islam hewan ba-
nyak dipakai sebagai ilustrasi dalam
mukjizat-mukjizat pada banyak kisah
dalam Al-Qur'an. Beberapa di antara-
nya yaitu :
• Burung gagak yang dikirimkan
kepada putra Nabi Adam untuk
mengajarinya cara menguburkan
mayat saudaranya.
Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains4
• Burung yang dibunuh dan ditem-
patkan bagian-bagian tubuhnya
oleh Ibrahim di beberapa puncak
gunung, menjadi contoh kekuasaan
Allah untuk menghidupkan makh-
luk yang sudah mati.
• Burung gagak milik Bani Israil yang
diperintahkan Nabi Musa untuk
mengungkap identitas pembunuh
misterius.
• Serigala atau anjing hutan yang
dituduh sebagai pembunuh Nabi
Yusuf.
• Burung bulbul atau hupu yang
memberitahu Sulaiman tentang
Ratu Sheba (Saba').
• Rayap yang memakan tongkat
Sulaeman dan mengungkap kenya-
taan bahwa Sulaiman telah wafat.
• Keledai milik Uzair yang dimatikan
Allah selama 100 tahun dan dihi-
dupkan kembali.
• Ikan besar yang menelan Nabi
Yunus dan mengeluarkannya kem-
bali sebab dia yaitu salah se-
orang penyembah Allah.
• Anjing yang tidur bersama Ashabul-
Kahfi selama tiga ratus sembilan
tahun.
• Semut yang memperingatkan
teman-temannya akan kedatangan
Nabi Sulaiman dan pasukannya.
• Gajah pasukan Abrahah yang gagal
saat diperintahkan untuk meng-
hancurkan Kabah.
• Perbandingan antara jaring laba-
laba dan rumah manusia―dan
masih banyak lagi.
Hewan selain diposisikan sebagai
permisalan dan mukjizat, dalam banyak
ayatnya Al-Qur'an juga menjelaskan
proses dan perikehidupannya.
Hubungan manusia dan hewan
dimulai dengan peringatan. Sebagai
khalifah, manusia oleh Al-Qur'an da-
lam banyak ayatnya, demikian pula
hadis Nabi, diperingatkan agar mem-
perlakukan hewan dengan baik. Allah
menyatakan bahwa hewan yaitu
umat Allah seperti halnya manusia.
Bahkan, Allah meminta manusia untuk
belajar dari perikehidupan hewan;
belajar mengenai pola organisasi yang
mengatur kehidupan hewan, cara
mereka berkomunikasi, sistem yang
memicu hewan dapat meng-
hasilkan air susu, dan seterusnya.
Begitu sadar bahwa hewan yaitu juga
makhluk Allah, maka manusia sudah
sewajarnya harus berbagi sumber
daya dengan hewan.
Al-Quran menjadikan hewan
sebagai “guru” bagi manusia. Al-
Qur'an pun mengingatkan manusia
bahwa hewan juga memiliki nurani,
dan sebab nya harus diperlakukan
dengan baik.
Manusia dengan kemampuannya
dapat menghindarkan hewan dari
Pendahuluan 5
penderitaannya, dalam memenuhi
kebutuhan manusia, atau paling tidak
mengurangi penderitaan itu. Begi-
tupun dalam hal pemakaian hewan
sebagai objek percobaan. Memang,
tidak ada petunjuk rinci mengenai
subjek ini, akan namun banyak ayat
Al-Qur'an dan hadis yang setidaknya
memberikan acuan dan rambu-rambu
secara global.
Tidak seperti pemakaian hewan
sebagai objek percobaan, peman-
faatan daging dan bagian tubuh
hewan lainnya oleh manusia diatur
dengan rinci dalam Al-Qur'an maupun
hadis. Semua hal yang berkaitan
dengannya, misalnya perlakuan dalam
pemeliharaan hewan, perlakuan dalam
pengangkutan, hingga cara memotong
hewan ternak dengan rinci dicatat
di dua sumber utama syariat Islam
ini . Tidak lupa, keduanya juga
mengatur tentang perlakuan terhadap
hewan dalam kancah olah raga, seperti
mengadu hewan dengan hewan, atau
mengadu hewan dengan manusia
(rodeo, matador, dan sejenisnya).
Meski aturan itu tidak mendetail, akan
namun ia sudah cukup memberikan
aturan global dalam mengatur peng-
gunaan binatang sebagai objek per-
cobaan dan penelitian.
Buku ini menguraikan sedikit
dari khazanah ilmu pengetahuan
tentang hewan. Banyak bagian dari
kajian ini yang masih perlu diperluas
dan dipertajam. Penulis memandang
bahwa apa yang disajikan dalam
buku ini barulah sekelumit dari ilmu
pengetahuan tentang hewan yang
bisa disarikan dari ayat-ayat Al-Qur'an
mengenai tema ini .
sebab Al-Qur'an yaitu sumber
ilmu yang berada pada tataran filo-
sofis, bukan pada tingkatan teori
ilmu pengetahuan, maka Al-Qur'an
bukanlah sumber langsung teori ilmi-
ah. Kitab ini tidak pernah berbicara
secara cukup terperinci, atau bahkan
sangat teknis, mengenai fenomena
alam. Ayat-ayat di dalamnya hanya
memberikan motivasi kepada kita
untuk mengamati dan memahami
alam.
Pada akhirnya kami ingin meng-
garisbawahi bahwa tulisan tidak be-
rangkat dari upaya untuk sekadar
mencocok-cocokkan ayat-ayat Al-
Qur'an dengan ilmu pengetahuan.
Namun, jika ternyata buku ini
terkesan sebaliknya maka hal itu tidak
lain akibat ketidakmampuan penulis
untuk menjelaskan dan menafsirkan
ayat-ayat Al-Qur'an dengan benar. []
PANDANGAN ISLAM TENTANG HEWAN
Al-Qur'an memberi manusia ke-
kuatan untuk memperlakukan
hewan dengan baik, untuk
tidak menyakiti dan merendahkannya.
Hewan, bersama dengan semua
ciptaan Allah, dipercaya menyembah
Allah, walaupun tidak dengan cara
seperti yang manusia lakukan. Allah
berfirman,
Secara eksplisit Al-Qur'an mem-
perbolehkan manusia untuk me-
ngonsumsi daging hewan. Walaupun
banyak umat muslim yang memilih
menjadi vegetarian, yang hanya makan
produk tumbuhan, Al-Qur'an tidaklah
mempersoalkan hal ini . Hewan
jenis tertentu hanya dapat dimakan
jika disembelih dengan cara
tertentu. Di sisi yang lain, beberapa
binatang dan produknya dinyatakan
oleh Al-Qur'an sebagai barang ha-
ram, misalnya saja daging babi,
darah, dan daging yang disembelih
bukan atas nama Allah. Binatang
pemangsa di darat dan burung
Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada
Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi,
dan juga burung yang mengembangkan sayapnya.
Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara)
berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa
yang mereka kerjakan. (an-Nūr/24: 41)
dengan paruh yang membengkok
dan tajam juga diharamkan. Akan
namun , hewan-hewan laut, meskipun
bentuk tubuhnya menyerupai hewan
daratan yang diharamkan, tetap saja
dihalalkan.
Di antara hewan yang banyak
disebutkan di dalam Al-Qur'an yaitu
jenis-jenis hewan mamalia, burung,
serangga, reptil, dan amfibi. Di
kelompok burung ada burung hupu
atau hud-hud yang berperan sebagai
peninjau yang membawa balik berita
mengenai sebuah negeri bernama
Saba' dalam kisah Nabi Sulaiman.
Ada juga burung gagak yang Allah
kirim kepada putra Adam―dipercaya
bernama Qabil―untuk mengajarinya
cara menguburkan mayat saudara
yang dibunuhnya. Ada pula burung
puyuh (salwā) yang diturunkan Allah
kepada umat Nabi Musa semasa
dalam pelarian. Menu ini merupakan
salah satu hidangan surgawi yang
dianugerahkan kepada mereka―
menu yang satunya lagi bernama
manna. Al-Qur'an juga menyebut
burung-burung yang diutus oleh
Allah untuk meluluhlantakkan tentara
bergajah yang hendak menghancurkan
Kabah.
Unta juga merupakan hewan
yang luar biasa. Allah melalui Al-Qur'an
meminta manusia untuk merenungkan
bagaimana ia diciptakan. Cara minum
unta menjadi permisalan para peng-
huni neraka yang meminum air men-
didih dengan rakus. Al-Qur'an juga
menyebut keledai dalam kisah Uzair
yang diwaftakan Allah selama seratus
tahun, dan dihidupkan kembali sete-
lah itu. Kitab ini jug menyebut kuda
tunggangan yang menjadi salah satu
perhiasan duniawi yang paling diingin-
kan oleh manusia dalam hidupnya.
Sapi juga disebut dalam kisah
tiga nabi, yaitu Ibrahim, Yusuf, dan
Musa. Disebutkan bahwa Ibrahim
menghidangkan sapi muda panggang
untuk menjamu malaikat yang men-
jumpainya. Sapi juga disebut dalam
mimpi penguasa Mesir yang lalu
mampu ditakwilkan oleh Yusuf.
Adapun kambing disebut dalam
kisah Nabi Daud yang diminta menjadi
pengadil saat dua orang bersaudara
berselisih perihal kepemilikan hewan
ini . Sementara itu, babi selalu
digambarkan sebagai hewan yang
haram dikonsumsi sekaligus dicela
sifat-sifatnya. Dalam Al-Qur'an Allah
melaknat orang-orang yang durhaka
dengan merubah rupa mereka menjadi
babi dan kera. Adapun anjing, binatang
yang dibenci oleh sebagian orang, juga
banyak disebut di sana, salah satunya
yaitu anjing bernama Qiţmīr.
Ular disebut sebanyak lima
kali di dalam Al-Qur'an; kesemuanya
berkaitan dengan kisah penjelmaan
9Pandangan Islam tentang Hewan
tongkat Nabi Musa menjadi ular saat
dilempar. Adapun serangga, semut
misalnya, dimasukkan dalam kisah
Nabi Sulaiman. Sementara itu ikan
dikisahkan dalam Al-Qur'an menelan
Nabi Yunus yang sedang melarikan diri
dari kaumnya. Semua ini menunjukan
bahwa hewan yaitu makhluk Tuhan
seperti halnya manusia. Bedanya, Allah
menjadikan mereka tunduk kepada
manusia dan dapat diambil manfaatnya
sebagai wujud dari kebesaran dan
keagungan Allah. Itu semua sebab
Allah telah menganugerahi manusia
apa-apa yang berada di langit dan di
bumi. (al-Gāsyiyah/45: 13)
Meski ada lebih dari 200 ayat
di dalam Al-Qur'an yang berbicara
tentang hewan, baik secara umum
maupun menunjuk secara spesifik jenis
tertentu, namun kehidupan hewan
tidak menjadi tema yang mendominasi
Al-Qur'an. Uraian mengenai hewan
juga tidak terlalu rinci, kendati
penduduk asli Jazirah Arab pada
masa pra-Islam banyak memakai
hewan sebagai permisalan, misalnya
ayam jantan yang menggambarkan
manusia yang ringan tangan kepada
sesama, kadal yang merepresentasikan
penghianat, burung puyuh yang me-
wakili orang dungu, dan singa yang
menggambarkan pemberani.
Al-Qur'an juga menyebut jenis-
jenis hewan dengan ungkapan dābbah,
bentuk tunggal dari ad-dawāb yang
berarti makhluk yang melata. Dalam
Surah al-Ĥajj/22: 18, an-Nūr/24: 45 dan
Fāţir/35: 28, dijelaskan bahwa apa yang
ada di langit dan bumi; matahari, bulan,
bintang, tumbuh-tumbuhan, dan
binatang, semuanya bersujud kepada
Allah. Sebagian dari hewan-hewan itu
berjalan di atas perutnya, sebagian
lagi berjalan dengan dua kaki, dan
sebagian lainnya dengan empat kaki.
Allah menciptakan hewan-hewan itu
beragam, baik jenis maupun warnanya.
Ini semua membuktikan kekuasaan
Allah yang tak terhingga. Dalam Surah
Hūd/11: 16 Allah menegaskan bahwa
betapapun hewan-hewan itu amat
beragam, namun tidak satu pun dari
mereka yang lepas dari pengawasan
dan pemeliharaan Allah.
Kesetaraan di antara makhluk,
terutama antara hewan dan manusia,
sangat ditekankan Tuhan. Meski pada
kenyataannya manusia jauh lebih mulia
daripada hewan, namun di akhirat
nanti keduanya akan dikumpulkan
bersama oleh Allah di ujung zaman.
Apakah dalam posisi sejajar atau tidak,
kita tidak pernah tahu. Ayat di bawah
ini menunjukkan hal yang demikian.
10 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di
bumi dan burung-burung yang terbang dengan
kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan
umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu
pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu
kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6:
38)
Kesetaraan banyak dibicarakan
dalam Al-Qur'an antara manusia di
satu pihak dan hewan di pihak lain.
Ayat di atas menjelaskan bahwa
hewan juga umat Allah, sama dengan
manusia. Walau mereka memiliki
ciri, kekhususan, dan sistem kehidupan
yang berbeda-beda, pada hakikatnya
mereka sama dengan manusia di
mata Allah. Manusia diwajibkan untuk
mengingat hal itu; bahwa mereka
semua yaitu ummah. Ayat ini sudah
sangat jauh melihat ke depan dalam
implikasi moral dan ekologi di dunia ini.
Meski setara (dalam perlakuan),
akan namun hewan itu sendiri secara
fisis bila dibandingkan manusia
memang masih kalah mulia. Hewan
yang hina secara fisi menjadi tamsil
bagi orang kafir. Perhatikan firman
Allah berikut!
Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan
(dunia) dan mereka makan seperti hewan makan;
dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.
(Muĥammad/47: 12)
Beberapa ayat Al-Qur'an lainnya
juga menyinggung perihal hewan;
tentang bagaimana manusia harus
memperlakukan hewan, kegunaan
hewan bagi manusia, perilaku hewan
yang patut ditiru manusia, dan banyak
lagi lainnya.
Membicarakan hubungan kese-
taraan antara manusia dengan hewan,
Muhammad Fazlur Rahman Anshari
menulis demikian, “Segala yang di
muka bumi ini diciptakan untuk kita,
maka sudah menjadi kewajiban alamiah
kita untuk menjaga segala sesuatu dari
kerusakan, memanfaatkannya dengan
tetap menjaga martabatnya sebagai
ciptaan Tuhan, dan melestarikannya
sebisa mungkin. Dengan demikian
kita mensyukuri nikmat Tuhan dalam
bentuk perbuatan nyata.”
Dalam Al-Qur'an banyak disebut-
kan nama-nama hewan, baik sebagai
tamsil maupun model untuk memberi
pelajaran dan petunjuk kepada manu-
sia. Peran hewan dalam kehidupan
manusia sejajar dengan sumber daya
alam lainnya, seperti air dan tumbuhan,
dan semuanya merupakan tanda-
tanda keesaan Allah. Allah berfirman,
Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang
yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi,
pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar
di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi
manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit
berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi
sesudah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya
bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin
dan awan yang dikendalikan antara langit dan
bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-
tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang
mengerti. (al-Baqarah/2: 164)
Ayat di atas menegaskan bahwa
hewan merupakan salah satu tanda
keesaan dan kebesaran Allah, dan
yang memahami hal ini hanyalah
manusia yang dapat memikirkannya.
Ayat ini juga bisa menjadi
motivasi bagi manusia untuk meman-
faatkan hewan-hewan untuk kepen-
tingannya, salah satunya melalui
proses yang dinamakan domestikasi
hewan, dan juga tumbuhan tentunya.
Domestikasi yaitu proses penjinakan
hewan dan penyesuaian hidup tum-
buhan untuk berbagai keperluan hidup
manusia.
Surah an-Naĥl/16: 5 berikut men-
jelaskan beberapa manfaat hewan,
Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk
kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan
dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu
makan. Dan kamu memperoleh keindahan
padanya, saat kamu membawanya kembali ke
kandang dan saat kamu melepaskannya (ke
tempat penggembalaan). Dan ia mengangkut
beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak
sanggup mencapainya, kecuali dengan susah
payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha
Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda,
bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan
(menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang
tidak kamu ketahui. (an-Naĥl/6: 5-8)
Ayat ini menegaskan bahwa
kulit dan bulu binatang ternak boleh
dimanfaatkan. Melengkapi kandungan
ayat ini, Rasulullah melarang peng-
gunaan kulit binatang liar, baik se-
bagai pakaian, penutup lantai, mau-
pun pelana. Dalam sebuah hadis
disebutkan,
َوَعْن َهِب بِالذَّ تٍُّم َتَ َعْن َأْو َخَواتِْيَم َعْن ََنَاَنا
baik hewan secara umum maupun
satwa peliharaan secara khusus, bagi
manusia.
12 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
َوَعْن ىِّ اْلَقسِّ َوَعِن اْلََياثِِر َوَعِن ِة بِاْلِفضَّ ٍب ُشْ
)رواه ْيَباِج. َوالدِّ ِق َواإِلْسَتْبَ اْلَِرْيِر ُلْبِس
البخاري ومسلم عن الباء بن عازب(
Rasulullah melarang kami memakai cincin emas,
minum dari wadah yang terbuat dari perak,
memakai alas pelana yang terbuat dari sutra,
mengenakan pakaian bercampur sutra yang
didatangkan dari Qas―sebuah wilayah di Mesir―
mengenakan pakaian dari sutra, sutra kasar dan
tebal, serta sutra halus. (Riwayat al-Bukhāri dan
Muslim dari al-Barrā' bin ‘Āzib)
Menurut sebagian ulama, al-
mayāšir yaitu sejenis karpet berbahan
sutra yang dahulu biasa diletakkan
di atas pelana kuda. Sebagian yang
lain memahaminya sebagai alas di
atas pelana berbahan kulit binatang
buas. Jika aturan atau himbauan yang
dikemukakan Nabi ini ditaati oleh
semua orang, maka pembunuhan sia-
sia terhadap beberapa jenis binatang
liar demi meraih keuntungan dari
kulitnya semata niscaya tidak terjadi.
Umat Islam diperbolehkan me-
ngonsumsi daging binatang yang
dihalalkan. Akan namun Rasulullah juga
mensyaratkan sesuatu dalam proses
perolehannya, yakni dengan disem-
belih. Beliau bersabda,
َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوِل َعْن َحِفْظُتُهَم ثِنَْتاِن
ُكلِّ َعَل اإِلْحَساَن َكَتَب اهللَ إِنَّ : َقاَل ، َم َوَسلَّ
َذَبْحُتْم اْلِقْتَلَة ، َوإَِذا َفَأْحِسنُوا َقَتْلُتْم َفإَِذا ٍء ، َشْ
ْح ْبَح ، َوْلُيِحدَّ َأَحُدُكْم َشْفَرَتُه َوْلُيِ َفَأْحِسنُوا الذَّ
َذبِْيَحَتُه . )رواه مسلم عن شداد بن أوس(
Ada dua pesan yang aku ingat betul dari Rasulullah.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan
kita untuk berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian
membunuh maka lakukanlah dengan cara yang
baik; jika kalian menyembelih maka sembelihlah
dengan cara yang baik; hendaklah salah satu dari
kalian mengasah mata pisaunya dan membuat
nyaman hewan yang akan disembelihnya. (Riwayat
Muslim dari Syaddād bin Aus)
Rasulullah juga melarang kita
mengikat hewan yang akan disem-
belih. Hanya saja larangan ini tidak
terkait halal-haramnya hewan yang
disembelih, melainkan berkaitan dengan
etika dalam menyembelih hewan ter-
sebut. Dalam sebuah hadis disebut-
kan,
َرُجٍل َعَل َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوُل َمرَّ
َشْفَرَتُه َيُدُّ َوُهَو َشاٍة َصْفَحِة َعَل ِرْجَلُه َواِضٍع
َقْبَل َأَفاَل : َفَقاَل ، َها بَِبَصِ إَِلْيِه َتْلَحُظ َوِهَي
َمْوَتَتْيِ ؟ )رواه الطباين ُتِْيَتَها َأْن َأُتِرْيُد َهَذا ؟
والبيهقي عن ابن عباس(
Rasulullah berpapasan dengan seorang lelaki
yang menginjakkan kakinya ke atas punggung
seekor kambing sambil mengasah mata pisaunya,
sedang hewan itu melirik dengan matanya
ke arah lelakai itu. lalu beliau bersabda,
“Mengapa tidak kauasah saja pisaumu sebelum ini?
Sengajakah engkau ingin membuat kambingmu
mati dua kali?” (Riwayat aţ-Ţabrāni dan al-Baihaqi
dari Ibnu ‘Abbās)
13Pandangan Islam tentang Hewan
Islam mengajarkan pemeluknya
untuk menyayangi binatang dan me-
lestarikan kehidupannya. Di dalam Al-
Qur'an Allah menekankan bahwa Dia
telah menundukkan bagi kepentingan
manusia apa saja yang ada di dunia ini.
manusia memperlakukan binatang
yang telah membantu kehidupannya.
Konsep itu salah satunya terkandung
dalam hadis-hadis berikut.
َذاَت َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوُل َأْرَدَفنِْي
َيْوٍم َخْلَفُه ، َفَأَسَّ إَِلَّ َحِديًثا الَ ُأْخِبُ بِِه َأَحًدا َأَبًدا
َأَحبُّ َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوُل َوَكاَن ،
، َنْخٍل َحاِئُش َأْو َهَدٌف َحاَجتِِه ِفْ بِِه اْسَتَتَ َما
َفإَِذا ، األَْنَصاِر ِحْيَطاِن ِمْن َحاِئًطا َيْوًما َفَدَخَل
ٌز َبْ َقاَل ، َعْينَاُه َوَذَرَفْت َفَجْرَجَر َأَتاُه َقْد َجٌَل
َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ النَّبِيَّ َرَأى َفَلمَّ : اُن َوَعفَّ
اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوُل َفَمَسَح َعْينَاُه َوَذَرَفْت َحنَّ
َمْن : َفَقاَل ، َفَسَكَن َوِذْفَراُه اَتُه َسَ َوَسلََّم َعَلْيِه
َصاِحُب اْلََمِل ؟ َفَجاَء َفًتى ِمَن األَْنَصاِر ، َفَقاَل
ِفْ اهللَ َتتَِّقي َأَما : َفَقاَل ، اهللِ َرُسْوَل َيا ِلْ ُهَو :
إَِلَّ َشَكا ُه إِنَّ ؟ اهللُ َملََّكَكَها تِْي الَّ اْلَبِهْيَمِة َهِذِه
ْيُعُه َوُتْدِئُبُه . )رواه أمحد عن عبد اهلل بن َأنََّك ُتِ
جعفر(
Suatu hari Rasulullah memboncengkanku (menaiki
unta) di belakangnya, lalu beliau mem-
bisikkan suatu percakapan yang sampai kapan
pun tidak akan aku sampaikan kepada orang lain.
Rasulullah, saat hendak membuang hajat, selalu
saja berjalan ke arah gundukan tanah atau kebun
kurma yang lebat (agar tidak terlihat orang lain).
saat beliau memasuki sebuah kebun kurma
milik seorang sahabat Ansar. Tiba-tiba saja seekor
unta menghampiri beliau dengan gemetaran dan
bercucuran air mata. Bahz dan ‘Affān―dua perawi
hadis ini―berkata, “Melihat hal itu Rasulullah
Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai
rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang
demikian itu benar-benar ada tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.
(al-Jāšiyah/45: 13)
Namun demikian, ayat ini tidak
sama sekali meligitimasi manusia untuk
berbuat semaunya dan sewenang-
wenang kepada makhluk-makhluk
ini . Manusia tidak pula memiliki
hak tak terbatas untuk memakai
alam sehingga merusak keseimbangan
ekologisnya.
Islam tidak membenarkan ma-
nusia untuk menyalahgunakan bina-
tang untuk tujuan olahraga maupun
sebagai objek eksperimen semba-
rangan. Ayat ini mengingatkan umat
manusia bahwa Sang Pencipta telah
menjadikan semua yang ada di alam
ini, termasuk satwa, sebagai amanat
yang mesti dijaga. Konsep Islam dalam
memenuhi hak-hak binatang sudah
jelas, misalnya bagaimana seharusnya
14 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
tersedu-sedu dan berlinang air mata. lalu
beliau mengelus-elus punuk dan tengkuk unta itu
hingga kembali tenang. Beliau bertanya, “Siapa
pemilik unta ini?” Seorang pemuda Ansar pun
datang, “Unta itu milikku, wahai Rasulullah!”
jawabnya. Rasulullah pun bertanya, “Tidakkah
engkau takut kepada Allah terkait hewan ini yang
telah Allah berikan kepadamu? Hewan ini mengadu
kepadaku bahwa engkau membiarkannya
kelaparan dan memaksanya bekerja keras!”
(Riwayat Aĥmad dari ‘Abdullāh bin Ja‘far)
َم َأْبَصَ َناَقًة َمْعُقْوَلًة إِنَّ النَّبِيَّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َهِذِه َصاِحُب َأْيَن : َفَقاَل ، َجَهاُزَها َوَعَلْيَها
، ُتْعِلَفَها َأْن ا إِمَّ ؟ فِْيَها اهللَ َتتَِّقي َأالَ ؟ اِحَلِة الرَّ
)رواه ! لِنَْفِسَها َتْبَتِغَي َحتَّى ُتْرِسَلَها َأْن ا َوإِمَّ
الطباين عن ابن عمر(
Sesungguhnya Rasulullah melihat seekor unta
yang sedang terikat sambil menggendong muatan
(milik majikannya), lalu beliau bertanya, “Siapakah
pemilik hewan ini? Tidakkah engkau takut kepada
Allah berkaitan dengan hewan ini? Seharusnya
engkau memberinya makan atau melepaskannya
agar ia mencari makan sendiri!” (Riwayat aţ-
Ţabrāni dari Ibnu ‘Umar)
َم ، َوإِنَّا ُكنَّا ِف َسَفٍر َمَع النَّبِيِّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
ْيِل َوَقْعنَا َوْقَعًة، َوالَ ُكنَّا ِفْ آِخِر اللَّ ْينَا َحتَّى َأْسَ
َوْقَعَة َأْحَل ِعنَْد اْلَُسافِِر ِمنَْها ، َفَم َأْيَقَظنَا إاِلَّ َحرُّ
َل َمِن اْسَتْيَقَظ ُفاَلٌن ُثمَّ ُفاَلٌن ْمِس ، َوَكاَن َأوَّ الشَّ
ْيِهْم َأُبْو َرَجاٍء َفنَِسَ َعْوٌف ُثمَّ ُعَمُر ُثمَّ ُفاَلٌن ُيَسمِّ
َعَلْيِه النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َوَكاَن ، ابُِع الرَّ اْلَطَّاِب ْبُن
َم إَِذا َناَم َلْ ُيوَقْظ َحتَّى َيُكْوَن ُهَو َيْسَتْيِقُظ ، َوَسلَّ
ألَنَّا الَ َنْدِرْي َما َيُْدُث َلُه ِفْ َنْوِمِه ، َفَلمَّ اْسَتْيَقَظ
ُعَمُر َوَرَأى َما َأَصاَب النَّاَس َوَكاَن َرُجاًل َجِلْيًدا ،
ُ َوَيْرَفُع َ َوَرَفَع َصْوَتُه بِالتَّْكبِْيِ ، َفَم َزاَل ُيَكبِّ َفَكبَّ
َصْوَتُه بِالتَّْكبِْيِ َحتَّى اْسَتْيَقَظ بَِصْوتِِه النَّبِيُّ َصلَّ
ِذْي الَّ إَِلْيِه َشَكْوا اْسَتْيَقَظ َفَلمَّ ، َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ
َأَصاَبُْم ، َقاَل : الَ َضْي َأْو : الَ َيِضُي ، اِْرَتُِلْوا !
َل َفَساَر َغْيَ َبِعْيٍد ، ُثمَّ َنَزَل َفَدَعا بِاْلُوُضْوِء َفاْرَتَ
اَلِة َفَصلَّ بِالنَّاِس ، َفَلمَّ َأ ، َوُنْوِدَي بِالصَّ ، َفَتَوضَّ
ُيَصلِّ َلْ ُمْعَتِزٍل بَِرُجٍل ُهَو إَِذا َصاَلتِِه ِمْن اْنَفَتَل
َ َمَع َمَع اْلَقْوِم ، َقاَل : َما َمنََعَك َيا ُفاَلُن َأْن ُتَصلِّ
: َقاَل ، َماَء َوالَ َجنَاَبٌة َأَصاَبْتنِْي : َقاَل ؟ الَقْوِم
النَّبِيُّ َساَر ُثمَّ ، َيْكِفْيَك ُه َفإِنَّ ِعْيِد بِالصَّ َعَلْيَك
ِمَن النَّاُس إَِلْيِه َفاْشَتَكى َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ
ْيِه َأُبْو َرَجاٍء اْلَعَطِش ، َفنََزَل َفَدَعا ُفاَلًنا َكاَن ُيَسمِّ
، َنِسَيُه َعْوٌف َوَدَعا َعِليًّا َفَقاَل : اْذَهَبا َفاْبَتِغَيا اْلَاَء
َيا اْمَرَأًة َبْيَ َمَزاَدَتْيِ َأْو َسطِْيَحَتْيِ ! َفاْنَطَلَقا َفَتَلقَّ
ِمْن َماٍء َعَل َبِعْيٍ َلَا ، َفَقاالَ َلَا : َأْيَن اْلَاُء ؟ َقاَلْت
اَعَة َوَنَفُرَنا ُخُلْوٌف : َعْهِدْي بِاْلَاِء َأْمِس َهِذِه السَّ
َقاالَ َأْيَن ؟ إَِل َقاَلْت : إًِذا اْنَطِلِقْي ، َلَا : ، َقاالَ
َقاَلْت : َم ، َوَسلَّ َعَلْيِه َرُسْوِل اهللَِّ َصلَّ اهللُ إَِل :
َتْعنِْيَ ِذْي الَّ ُهَو : ابُِئ ؟ َقاالَ َلُه الصَّ ُيَقاُل ِذْي الَّ
َعَلْيِه اهللُ َصلَّ النَّبِيِّ إَِل ِبَا َفَجاَءا ! َفاْنَطِلِقْي ،
َثاُه اْلَِدْيَث ، َقاَل : َفاْسَتنَْزُلْوَها َعْن َم َوَحدَّ َوَسلَّ
َم بِإَِناٍء ، َها ، َوَدَعا النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ َبِعْيِ
15Pandangan Islam tentang Hewan
ِه . َوَقاَل َأُبو اْلَعالَِيِة : : َصَبَأ َخَرَج ِمْن ِديٍن إَِل َغْيِ
ُبْوَر ابِِئْوَن فِْرَقٌة ِمْن َأْهِل الِكَتاِب َيْقَرُءْوَن الزَّ الصَّ
)رواه البخاري عن عمران)
Suatu saat kami tengah dalam perjalanan
bersama Rasulullah. Kami terus saja berjalan
pada malam hari, sampai menjelang akhir malam
kami pun rehat. Kami semua terlelap sangat
nyenyak; tidak ada tidur yang lebih nyenyak bagi
seorang musafir melebihi yang kami alami. Begitu
lelapnya tidur kami hingga hanya terik matahari
yang mampu membuat kami terbangun. Orang
yang pertama kali bangun yaitu si A, lalu si B,
lalu si C―Abū Rajā' (salah satu perawi hadis ini)
menyebut dengan jelas nama tiga orang ini, namun
‘Auf (perawi di bawahnya) lupa―dan Umar bin
al-Khațțāb yaitu orang keempat yang bangun.
Adapun Rasulullah, bila tidur, tidak ada yang berani
membangunkannya sampai beliau bangun sendiri.
Hal itu sebab kami tidak tahu apa yang terjadi pada
beliau dalam tidurnya―apakah sedang menerima
wahyu ataukah tidak. saat Umar―seorang
pria yang sangat perkasa―bangun dan melihat
apa yang menimpa kami (bangun kesiangan),
ia bertakbir dengan suara lantang. Ia terus saja
bertakbir dengan lantang hingga Rasulullah
terbangun sebab nya. Begitu beliau bangun, orang-
orang mengadukan apa yang mereka alami kepada
beliau. Beliau pun bersabda, “Tidak ada masalah―
atau tidak mengapa―, lanjutkanlah perjalanan
kalian!” Beliau lalu meneruskan perjalanan. Tak
begitu jauh, beliau kembali berhenti dan meminta
air untuk wudu. Beliau lalu berwudu dan mengajak
para sahabatnya untuk salat berjamaah. Usai salat,
beliau mendapati seseorang yang memisahkan
diri dan tidak ikut salat bersama yang lain. “Wahai
Fulan, mengapa engkau tidak salat bersama yang
lain?” tanya beliau. Ia menjawab, “Aku sedang
berjunub, dan tidak ada air (yang bisa aku pakai
untuk mandi).” Lantas beliau menjelaskan, “Kalau
begitu, gunakanlah debu (untuk bertayamum),
dan itu sudah cukup (untuk menghilangkan
َغ فِْيِه ِمْن َأْفَواِه اْلََزاَدَتْيِ َأْو َسطِيَحَتْيِ َوَأْوَكَأ َفَفرَّ
: النَّاِس ِف َوُنوِدَي ، اْلَعَزاِلَ َوَأْطَلَق َأْفَواَهُهَم
َمْن َواْسَتَقى َشاَء َمْن َفَسَقى ، َواْسَتُقوا ُاْسُقْوا
َأَصاَبْتُه ِذْي الَّ َأْعَطى َأْن َذاَك آِخُر َوَكاَن ، َشاَء
اْلَنَاَبُة إَِناًء ِمْن َماٍء ، َقاَل : اِْذَهْب َفَأْفِرْغُه َعَلْيَك
! َوِهَي َقاِئَمٌة َتنُْظُر إَِل َما ُيْفَعُل بَِمِئَها ، َواْيُم اهللِ
َا َأَشدُّ ِمأَلًة ُه َلُيَخيَُّل إَِلْينَا َأنَّ َلَقْد ُأْقِلَع َعنَْها ، َوإِنَّ
ِمنَْها ِحْيَ اْبَتَدَأ فِْيَها ، َفَقاَل النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه
َم : اِْجَُعْوا َلَا ! َفَجَمُعْوا َلَا ِمْن َبْيِ َعْجَوٍة َوَسلَّ
َوَدِقْيَقٍة َوَسِوْيَقٍة َحتَّى َجَُعْوا َلَا َطَعاًما ، َفَجَعُلْوَها
الثَّْوَب َوَوَضُعوا َها َبِعْيِ َعَل َومَحَُّلْوَها َثْوٍب ِفْ
َتْعَلِمْيَ َما َرِزْئنَا ِمْن َماِئِك َيَدْيَا ، َقاَل َلَا : َبْيَ
ِذْي َأْسَقاَنا ! َفَأَتْت َأْهَلَها َشْيًئا ، َوَلِكنَّ اهللَ ُهَو الَّ
َوَقِد اْحَتَبَسْت َعنُْهْم ، َقاُلوا: َما َحَبَسِك َيا ُفاَلَنُة ،
َقاَلْت : َاْلَعَجُب ! َلِقَينِْي َرُجاَلِن َفَذَهَبا ِبْ إَِل َهَذا
َفَواهللِ َوَكَذا، َكَذا َفَفَعَل ابُِئ الصَّ َلُه ُيَقاُل ِذْي الَّ
َوَقاَلْت ، َوَهِذِه َهِذِه َبْيِ ِمْن النَّاِس ُه ألَْسَحُر إِنَّ
َمِء بَّاَبِة، َفَرَفَعْتُهَم إَِل السَّ بِإِْصَبَعْيَها اْلُوْسَطى َوالسَّ
ا ، َلَرُسْوُل اهللِ َحقًّ ُه إِنَّ َأْو َمَء َواألَْرَض َتْعنِي السَّ
وَن َعَل َمْن َحْوَلَا َفَكاَن اْلُْسِلُمْوَن َبْعَد َذلَِك ُيِغْيُ
ِهَي ِذْي الَّ َم ْ الصِّ ُيِصْيُبْوَن َوالَ ، ِكْيَ اْلُْشِ ِمَن
َهُؤالَِء َأنَّ ُأَرى َما : لَِقْوِمَها َيْوًما َفَقاَلْت ، ِمنُْه
اْلَقْوَم َيْدُعْوَنُكْم َعْمًدا ، َفَهْل َلُكْم ِف اإِلْساَلِم ؟
َفَأَطاُعْوَها َفَدَخُلْوا ِف اإِلْساَلِم ، َقاَل َأُبو َعْبِد اهللِ
16 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
janabahmu). lalu Rasulullah melanjutkan
perjalanan hingga para pengikutnya mengeluh
kehausan. Rasulullah pun berhenti. Beliau
memanggil seseorang―Abū Rajā' menyebut nama
jelas pria ini , namun ‘Auf lupa―dan Ali.
Kepada keduanya Rasulullah berpesan, “Pergilah
kalian berdua untuk mencari air!” Mereka pun
berangkat dan berjumpa seorang wanita yang
menunggang unta dengan dua kantung air di
kanan-kirinya. Keduanya bertanya kepadanya,
“Dimana ada air?” Wanita itu menjawab, “Terakhir
kali aku lihat air di sana, satu hari perjalanan dari
tempat ini. Kaum pria desa kami pun pergi untuk
mencari air.” Lalu keduanya berkata, “Kalau begitu,
pergilah!” “Kemana?”, tanya wanita itu. Mereka
menjawab, “Menghadap Rasulullah.” Wanita itu
balik bertanya, “Menghadap pria yang disebut-
sebut sebagai murtad (șābi')?” Mereka menjawab,
“Ya, pria itulah yang kaumaksud. Pergilah!”
lalu kedua sahabat Nabi itu bersama
wanita ini menemui Rasulullah. Keduanya
menceritakan peristiwa yang baru mereka alami.
Para sahabat lalu meminta wanita itu turun dari
untanya. lalu Rasulullah meminta bejana
air; beliau lalu memenuhinya dengan air dari
mulut kantong-kantong air (milik wanita itu).
Beliau mengikat lubang atas kantong dan melepas
ikatan di bagian bawahnya. “Minumlah kalian,
dan minumilah hewan tunggangan kalian!” seru
Rasulullah. Beberapa dari mereka pun minum
dan beberapa lainnya meminumi tunggangan
mereka. sesudah semuanya selesai, barulah beliau
memberi seember air kepada orang yang tadi
terkena janabah. “Pergi dan mandilah!” perintah
beliau. Sementara itu, wanita tadi sambil berdiri
terus saja mengamati apa yang para sahabat
lakukan terhadap air miliknya. Demi Allah, wanita
itu terperanjat―kami juga demikian; kami
saksikan jumlah air dalam wadah milik wanita tadi
lebih banyak dibanding sebelum air di dalamnya
dituangkan oleh Rasulullah. Rasulullah lalu
bersabda kepada para sahabatnya, “Kumpulkanlah
(bahan makanan) untuknya―sebagai imbalan
atas air yang kalian gunakan!” Mereka pun
bergegas mengumpulkan makanan berupa kurma,
tepung, sawiq (campuran antara susu dan tepung)
untuk wanita ini , dan memasukkannya ke
dalam selembar kain. Mereka lalu menaikkan
wanita itu ke punggung untanya, dan menaruh
kain berisi bahan makanan tadi di depannya.
Rasulullah berkata kepadanya, “Kautahu bahwa
kami tidak mengurangi sedikit pun air milikmu,
namun Allah-lah yang telah memberi kami minum.”
Pulanglah wanita itu menemui keluarganya―
ia datang terlambat. Mereka bertanya, “Wahai
Fulanah, mengapa engkau datang terlambat?”
Ia menjawab, “Sebuah keajaiban! Aku bertemu
dua pria yang lalu membawaku menemui
seseorang yang disebut-sebut murtad―Șābi'.
Laki-laki itu melakukan ini dan itu―menceritakan
apa yang terjadi dengan panjang lebar. Demi
Allah, dia yaitu orang yang paling menakjubkan
(membuatku sangat terkesan) di antara ini
(langit) dan ini (bumi).” Ia berkata demikian
sambil memberi isyarat dengan mengangkat jari
tengah dan telunjuknya ke arah langit―mungkin
ia bermaksud memberi isyarat yang berarti
‘antara langit dan bumi,’ atau ia hendak bersaksi
bahwa pria yang ditemuinya yaitu benar-benar
utusan Allah. Sejak saat itu kaum muslim selalu
melindungi wanita ini dari gangguan kaum
musyrik di sekelilingnya. Mereka (kaum muslim)
pun tidak pernah mengganggu kampung terpencil
di mana wanita itu berasal. Suatu hari ia berkata
kepada kaumnya, “Aku tidak yakin mereka (kaum
muslim) sengaja membiarkan (tidak mengganggu)
kalian. Tidakkah kalian mau masuk Islam?” Mereka
pun kompak menaati seruan wanita ini , dan
bersama-sama masuk Islam. (Riwayat al-Bukhāri
dari ‘Imrān)
saat berhenti di tengah per-
jalanan untuk sekadar beristirahat atau
menunaikan salat, Rasul menganjurkan
para sahabatnya agar mengurangi
muatan pada hewan pemuat dan
memberinya makan. Beliau juga mem-
peringatkan bahwa binatang-binatang
17Pandangan Islam tentang Hewan
itu harus dimanfaatkan sesuai dengan
fungsinya. Suatu saat beliau melihat
seseorang duduk di atas punggung
unta di tengah-tengah pasar sambil
mengobrol dengan sesamanya. Beliau
lantas menegurnya,
َفإِنَّ ، َمنَابَِر ُكْم َدَوابِّ ُظُهْوَر َتتَِّخُذْوا َأْن اُكْم إِيَّ
َتُكْوُنْوا َلْ َبَلٍد إَِل َغُكْم لُِتَبلِّ َلُكْم َرَها َم َسخَّ إِنَّ اهللَ
األَْرَض َلُكُم َوَجَعَل ، األَْنُفِس بِِشقِّ إاِلَّ َبالِِغْيِه
داود عن أبو . )رواه َحاَجَتُكْم َفاْقُضْوا َفَعَلْيَها
عن أب هريرة )
Janganlah kalian menjadikan punggung-pungung
binatang peliharaanmu sebagai mimbar (untuk
bercakap-cakap), sebab sesunguhnya Allah mem-
buat mereka tunduk kepadamu (bukan untuk
itu, melainkan) agar mereka membawamu pergi
dari satu tempat ke tempat lain yang tidak dapat
kamu capai kecuali dengan badan yang letih. Dan
Allah telah menjadikan untuk kalian tanah, maka
buanglah hajat kalian di sana. (Riwayat Abū
Dāwūd dari Abū Hurairah)
Islam mengajari manusia untuk
membalas pelayanan yang telah dibe-
rikan oleh binatang-binatang mereka
dengan memperlakukan binatang itu
sebaik mungkin. Manusia diharuskan
membantu memenuhi kebutuhan
binatang peliharaan mereka. Islam
mewajiban manusia berinteraksi
dengan binatang menurut cara yang
dibenarkan sebab mereka yaitu
juga ciptaan Allah. Sudah jelas bahwa
hewan tidak punya kemampuan
untuk menuntut haknya dari manusia.
Namun demikian, menurut perspektif
Islam, seseorang wajib berbuat baik
dan memperhatikan apa yang men-
jadi hak hewan. Dalam kerangka
inilah Rasulullah melarang manusia
membunuh hewan apa pun tanpa
tujuan yang dibenarkan.
َمْن َقَتَل ُعْصُفوًرا َعَبًثا َعجَّ إَِل اهللِ َعزَّ َوَجلَّ َيْوَم
اْلِقَياَمِة ِمنُْه ، َيُقوُل : َيا َربِّ إِنَّ ُفاَلًنا َقَتَلنِي َعَبًثا
وابن والنسائي أمحد )رواه . لَِنَْفَعٍة َيْقُتْلنِي َوَلْ
حبان عن الشيد بن سويد )
Barang siapa membunuh burung pipit tanpa alasan
yang dibenarkan maka burung ini akan
melapor kepada Allah pada hari kiamat. Ia berkata,
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya Fulan telah
membunuhku dengan sia-sia; ia tidak membunuhku
untuk suatu manfaat.” (Riwayat Aĥmad, an-Nasā'i
dan Ibnu Ĥibbān dari asy-Syuraid bin Suwaid)
Dalam rangka mengajak manusia
untuk menjadi penyayang semua
mahluk yang ada di muka bumi, Nabi
mengkaitkannya dengan pahala dan
siksa. Beliau bersabda dalam beberapa
hadisnya,
مْحَُن ، اْرمَحُوا َمْن ِف األَْرِض امِحُوَن َيْرمَحُُهْم الرَّ َالرَّ
مْحَِن ِحُم ُشْجنٌَة ِمْن الرَّ َمِء ، الرَّ َيْرمَحُْكْم َمْن ِف السَّ
. َفَمْن َوَصَلَها َوَصَلُه اهللُ َوَمْن َقَطَعَها َقَطَعُه اهللُ
( رواه أمحد والتمذي عن ابن عمرو)
Orang-orang yang penuh kasih sayang akan
dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Berkasih
sayanglah kalian kepada siapa (dan apa) pun yang
di


